Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasitidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisaTapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwaKerja belum selesai, belum bisa memperhitungkanarti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakanTapi adalah kepunyaanmuKaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulangberserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaankemenangan dan harapanatau tidak untuk apa-apa,Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkataKaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kamiTeruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karnomenjaga Bung Hattamenjaga Bung SjahrirKami sekarang mayatBerilah kami artiBerjagalah terus di garis batas pernyataan dan impianKenang, kenanglah kamiyang tinggal tulang-tulang diliputi debuBeribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.
1948