Aku Ini Binatang Jalang · Chairil Anwar

Chapter 82: Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasitidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisaTapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwaKerja belum selesai, belum bisa memperhitungkanarti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakanTapi adalah kepunyaanmuKaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulangberserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaankemenangan dan harapanatau tidak untuk apa-apa,Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkataKaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kamiTeruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karnomenjaga Bung Hattamenjaga Bung SjahrirKami sekarang mayatBerilah kami artiBerjagalah terus di garis batas pernyataan dan impianKenang, kenanglah kamiyang tinggal tulang-tulang diliputi debuBeribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi.

1948

The end.